Negeri Para Penonton


Written on Maret 26, 2012 – 9:04 pm | by Jauharyfahmi12

aremaniaStadion ramai dan bergemuruh akan suka cita atau duka cita. Gairah dan energi besar terpancar di udara Stadion-Stadion di republik saat tim kesayangan bertanding….entah itu tim nasional atau klub kecintaan. Sebegitu besarlah kecintaan masyarakat Indonesia pada Sepakbola, permainan yang disebut sebagai yang terindah yang pernah dimainkan manusia.

Mudah untuk mengira penonton di dalam maupun luar Stadion, tapi percayalah akan sulit untuk mendata berapa banyak jumlah pemain professional di negeri ini. “Di Iran tercatat sekitar 4,3 juta pemain professional aktif sementara Turki data 2002 menyebut angka 3,6 juta,” ujar saya pada sebuah diskusi di televisi swasta. Saya lalu bertanya, berapakah jumlah pemain professional aktif di negeri ini pada lawan bicara saya bang Sutan Harharah yang saat itu menjabat Direktur Teknis Tim Nasional.

Ia mengangkat bahunya sembari mengira-ngira “Hitung saja jumlah klub Liga Super dan Divisi Utama, sekitar itulah jumlahnya, bisa jadi gak sampe lima ratus,” jawabnya bagai tersadar. Kami lalu mendiskusikan, apa benar para pemain Sepakbola telah dibayar layak yang kemudian sampai pada kesimpulan “Yang dibayar cukup mahal itu jumlahnya tak akan lebih dari 200 pemain,”

Sulit juga untuk membayangkan prestasi optimal dari sumber daya yang terlalu sedikit dan tak sebanding dengan jumlah populasi ini. Gairah yang besar itu nyatanya tidak diimbangi dengan fakta bahwa banyak orang kemudian bekerja sebagai pesepakbola. Benar jika banyak yang bercerita betapa mereka pernah mencicipi sekolah Sepakbola atau menjadi bagian dari tim junior sebuah tim. Tapi berapa sih dari orang-orang yang berkisah itu yang kini betul-betul jadi pesepakbola professional?

Jadi tak usah heran jika kita akhirnya tak juga pernah mencapai prestasi puncak walau gairah besar itu terus terlihat di berbagai tempat. Karena gairah saja tak pernah cukup untuk bisa mencapai prestasi, juga Sepakbola nyatanya tak semudah itu. Menyaksikan dan memperhatikan atau bahkan mempelajari berbagai kajian Sepakbola mulai dari perspektif psikologi, antropologi, sosiologi sampai budaya nyatanya tak juga cukup untuk bisa mengatrol Sepakbola kita ke tingkat tertinggi.

Jadi jangan heran jika kemudian Sepakbola kini hari ini begitu amburadulnya, karena ternyata mengurus Sepakbola tak semudah menonton dan menganalisa bagaimana jalannya pertandingan. Pemahaman organisasi mapan yang rumit ini tak bisa dipelajari dengan hanya dengan modal paham luar kepala liga-liga besar di Eropa misalnya, tapi lebih jauh dari itu butuh pengertian bahwa federasi di Indonesia itu sebenarnya hanya bagian kecil dari organisasi-organisasi induk lainnya. Bahwa antar federasi saling terkait dan PSSI harus patuh pada induknya adalah hal yang sangat penting.

Jika paham bahwa memahami Sepakbola tidak paralel dengan kemampuan menceritakan transformasi skema 4-4-2 ke 4-2-3-1 dengan detil belaka, saya rasa Sepakbola kita akan bisa lebih cepat maju.

REVOLUSI GAYA HIDUP


Written on Maret 9, 2012 – 6:58 pm | by Jauharyfahmi12

Pada tanggal 5 Juni 2007, negara-negara seluruh dunia umumnya memperingatnya sebagai Hari Lingkungan Hidup. Pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim (climate change) belum menjadi mengedepan dalam kesadaran multipihak. Pemanasan global (global warming) telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). Tidak banyak memang yang memahami dan peduli pada isu perubahan iklim. Sebab banyak yang mengatakan, memang dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif. Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap tidak penting oleh banyak kalangan, utamanya penerima mandat kekuasaan dalam membuat kebijakan.

Perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming), pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor dunia ”Guinnes Record Of Book” sebagai negara tercepat
yang rusak hutannya.

Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung es) di Himalaya dan Kutub Selatan. Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el Nino) di seluruh dunia. Serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Jika ini kita kaitkan dengan wilayah Indonesia tentu sangat terasa, begitu juga dengan kota-kota yang dulunya dikenal sejuk dan dingin makin hari makin panas saja. Contohnya di Jawa Timur
bisa kita rasakan adalah Kota Malang, Kota Batu, Kawasan Prigen Pasuruan di Lereng Gunung Welirang dan sekitarnya, juga kawasan kaki Gunung Semeru. Atau kota-kota lain seperti Bogor Jawa Barat, Ruteng Nusa Tenggara, adalah daerah yang dulunya dikenal dingin tetapi sekarang tidak lagi.

Meningkatnya suhu ini, ternyata telah menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik “lama dan baru” yang merata dan terus bermunculan; seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, malaria. Padahal penyakit-penyakit seperti malaria, demam berdarah dan diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah lewat dan mampu ditangani dan kini telah mengakibatkan ribuan orang terinfeksi dan meninggal. Selain itu, ratusan desa di pesisir Jatim terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, indikatornya serasa makin dekat saja jika kita tengok naiknya gelombang pasang di minggu ketiga bulan Mei 2007 kemarin. Mulai dari Pantai Kenjeran, Pantai Popoh Tulungagung, Ngeliyep Malang dan pantai lain di pulau-pulau di Indonesia.

Untuk negara-negara lain meningkatnya permukaan air laut bisa dilihat dengan makin tingginya ombak di pantai-pantai Asia dan Afrika. Apalagi hal itu di tambah dengan melelehnya gleser di gunung Himalaya Tibet dan di kutub utara. Di sinyalir oleh IPCC hal ini berkontribusi langsung meningkatkan permukaan air laut setinggi 4-6 meter. Dan jika benar-benar meleleh semuanya maka akan meningkatkan permukaan air laut setinggi 7 meter pada tahun 2012. Dan pada 30 tahun kedepan tentu ini bisa mengancam kehidupan pesisir dan kelangkaan pangan yang luar biasa, akibat berubahnya iklim yang sudah bisa kita rasakan sekarang dengan musim hujan yang makin pendek sementara kemarau semakin panjang. Hingga gagal panen selain soal hama, tetapi akibat kekuarangan air di tanaman para ibu-bapak petani banyak yang gagal.

Lantas dengan situasi sedemikian rupa apa yang dibutuhkan oleh dunia kecil “lokal” dan kita sebagai individu penghuni planet bumi? Yang dibutuhkan adalah REVOLUSI GAYA HIDUP, sebab dengan demikian akan mengurangi penggunaan energi baik listrik, bahan bakar, air yang memang menjadi sumber utama makin berkurangnya sumber kehidupan.

Selain itu perlunya melahirkan konsesus yang membawa komitmen dari semua negara untuk menegakkan keadilan iklim. Seperti yang sudah dilakukan oleh Australia yang mempunyai instrumen keadilan iklim, melalui penegakan keadilan iklim dengan membentuk pengadilan iklim. Dimana sebuah instrumen yang mengacu pada isi Protokol Kyoto yang menekankan kewajiban pada negara-negara Utara untuk membayar dari hasil pembuangan emisi karbon mereka untuk perbaikan mutu lingkungan hidup bagi negara-negara Selatan.

Dalam praktek yang lain saatnya kita mulai menggunakan energi bahan bakar alternatif yang tidak hanya dari bahan energi fosil, misalnya untuk kebutuhan memasak. Menggunakan energi biogas (gas dari kotoran ternak) seperti yang dilakukan komunitas merah putih di Kota Batu. Desentraliasasi energi memang harus dilakukan agar menghantarkan kita pada kedaulatan energi dan melepas ketergantungan pada sentralisasi energi yang pada akhirnya harganya pun makin mahal saja.

Sedangkan untuk para pengambil kebijakan harusnya mengeluarkan policy yang jelas orientasinya untuk mengurangi pemanasan global. Misalnya menetapkan jeda tebang hutan di seluruh Indonesia agar tidak mengalami kepunahan dan wilayah kita makin panas. Menghentikan pertambangan mineral dan batubara seperti di Papua, Kalimantan, Sulawesi, hal ini bisa dilakukan dengan bertahap mulai dari meninjau ulang kontrak karyanya terlebih dahulu. Selanjutnya kebijakan progressive dengan mempraktekkan secara nyata jeda tebang dan kedaulatan energi harus dilakukan jika kita tidak mau menjadi kontributor utama pemanasan global.

Iklim memang mengisi ruang hidup kita baik secara individu maupun sosial, maka tidak mungkin menegakkan keadilan iklim tanpa melibatkan kesadaran dan komitmen semua pihak. Bahwa tidak bisa dibantah, kita hidup dalam ekosistem dunia “perahu” yang sama, sehingga jika ada bagian yang bocor dan tidak seimbang, sebenarya ini merupakan ancaman bagi seluruh isi perahu dan penumpangnya. Maka merevolusi gaya hidup kita untuk tidak makin konsumtif sangat mendasar dilakukan sekarang juga oleh seluruh umat manusia. Sebab dengan begitu kita bisa menempatkan apa yang kita butuhkan bisa ditunda tidak, yang harus kita beli membawa manfaat atau tidak dan apakah yang kita beli bisa digantikan oleh barang yang lain yang ramah lingkungan?

Ini semua adalah cerminan bagi mereka yang berusaha dan sadar sepenuh hati demi keberlanjutan kehidupan sosial (sustainable society) yang berkeadilan secara sosial, budaya, ekologis dan ekonomi. Inilah tindakan nyata untuk meraih kedaulatan energi dan melepaskan ketergantungan terhadap energi fosil yang sekarang telah dikuasai oleh korporasi modal. Sekarang siapapun bisa memilih, mau jadi kontributor pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim dan suhu yang makin panas? Atau mau menjadi bagian dari pelaku ”penyejukan global” dengan mengubah pola konsumsi dan gaya hidup dari sekarang juga? Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Mari bertindak nyata untuk masa depan bersama.

Tujuan,

Tujuaannya jelas adalah sebagai bentuk penyadaran kepada masyarakat dunia secara umum, dan masyarakat Indonesia kepada khususnya, sebagai bentuk kritikan kepada Negara-negara industry yang banyak berperan penting dalam terkikisnya udara dingin dari permukaan bumi, dan Negara berkembang yang ikut berpartisipasi memberikan dampak negatifnya kepada bumi yang kita cintai, walau hanya sepersekian persen secara matematikannya. Dengan artikel diatas jelas bahwa bumi ini sangat butuh perhatian dari seluruh manusia yang hidup didalamnya, baik itu pelaku industry, pemegang tampuk kekuasaan, maupun masyarakat social yang juga turut bersosialisasi di muka bumi ini. Dengan berbagai seruan penyelamatan yang dijelaskan pada artikel diatas, jelas penulis mengajak seluruh masyarakat dunia untuk sama-sama me revolusi gaya hidup demi keselamatan bumi tercinta.

Saran

Seharusnya penulis lebih memaparkan lagi bagaimana cara Negara-negara industry yang sangat berperan besar dalam pengrusakan bumi, agar para pembaca mengerti yang sebenarnya, sebab-akibat dari pekerjaan industry di berbagai Negara berkembang tersebut, agar para pembaca juga tahu mana Negara yang sebenarnya merusak bumi ini dan mana Negara yang memperjuangkan keasrian bumi ini tetap terjaga. Juga perlu di jelaskan tindakan nyata dari berbagai Negara, baik secara structural, organisasi, maupun individual, ini bertujuan agar lebih memotivasi pembaca untuk berbuat nyata bagi bumi yang mereka cintai.

Pesan moral

Banyak yang dapat di ambil dari coretan tangan seorang manusia yang peduli terhadap bumi di atas, bahkan sangat banyak, tapi yang terpenting, niat baiknya untuk mengajak kepada seluruh umat manusia yang hidup dimuka bumi untuk sama-sama saling memperbaiki “perahu” yang juga bersama sama di tumoanginnya. Tak dapat dipungkiri bahwa bumi ini setiap detik semakin tergerus oleh element-element dan zat-zat yang berbahaya bagi kenyamanan iklim dimuka bumi ini, itu sebabnya di perlukan ekstra kepedulian untuk menutupi lubang-lubang kebocoran atau kerusakan-kerusakan yang semakin nyta dimuka bumi, melalui tulisan diatas, secara panjang lebar penulis mencoba menjelaskan awal dari sebuah pengrusakan dan dampak dari kerusakan sampai usaha untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Dengan memaca tulisan di atas, maka tidak adalagi alas an bagi seorang pembaca untuk tidak melakukan tindakan nyata bagi bumi ini, karna setiap individu pasti menyayangi dirinya, keluargannya, dan tentu saja buminnya.

Sinopsis

Terhitung sejak tanggal 5 juni 2007, para masyarakat dunia menyebut hari pada tanggal ini dengan sebutan hari lingkungan hidup, dimana sangat banyak isu2 lingkungan yang perlu diberikan perhatian, utamannya isu tentang global worming atau lebih dekat dengan kita dengan sebutan “pemanasan global”. Penulis mencoba mendiskripsikan isu pemanasan global adalah isu yang harus benar2 di perhatikan, karna selama ini, isu ini dianggap kurang perhatian karna hanya berdampak secara akumulatif. Disini juga di jelaskan bahwa yang sangat berperan penting dalam pengrusakan keadaan alam adalah meningatnya emisi karbon dari akibat penggunaan energy fosil (batubara dan berbagai jenis lainnya). Juga bagaimana Negara-negara industrialisasi seperti amerika, inggris, kanada, jepang cina dan lain lain menjadi actor utama dalam pengrusakan bumi tercinta kita. Dampak dari kegiatan industry dari beberapa Negara di atas mengakibatkan musim yang tidak menentu, kemarau menjadi lebih panjang, dan hujan menjadi relative singkat, juga pergesan gleser kutub utara yang berdampak hamper keseluruh belahan dunia manapun terutama kebenua asia dan afrika dengan indicator makin tingginya ombak-ombak di pesisir pantai kedua negara. Bagaimana dampaknya dengan Negara kita, tentu saja sangat memprihatinkan, global warming menyebabkan kekeringan dan gagal panen disektor kehidupan pangan, dan semakin meraja lelannya penyakit “clasik” yang mustinya sudah bisa ditangani sejak dulu yaitu malaria. Lalu apa yang bisa kita lakukan, disini penulis mengajak kita untuk sudah saatnya me REVOLUSI GAYA HIDUP, dengan maksud membiasakan gaya hidup yang sangat ramah lingkungan untuk menjaga bumi kita dari kehancuran yang sangat membahayakan bagi kelangsungan kehidupan. Cretive by Dwi Putri Zuliyana :D

Tags: , , , , ,

Aku Berdosa Menilaimu Salah


Written on Februari 17, 2012 – 12:47 am | by Jauharyfahmi12

Entah setan mana yang selalu menghardiku untuk mengatakan kalau orang-orang di senayan sana bangsat, mungkin karna selama ini mata kiriku tertutup untuk memandang sebuah kejelasan yang ada disana, mungkin pandangan mata kananku tidak sepenuhnya salah, karna apa yang dilihatnya selama ini memang benar adannya, acara titip absen yang dilakukan oleh orang-orang disana tak lebih terpuji berbanding mahasiswa abadi teman kampusku, tidur disaat ketua berkhotbah mengenai penggodokan undang-undang hampa merupakan contoh ketololan rakyat untuk memilih mereka, gelontoran uang negara untuk hal hal yang kecil dengan nominal yang mencengangkan semakin membuat hati ini merasakan kekesalan yang teramat sangat pada orang-orang yang keluar masuk senayan setiap harinnya. belum lagi masalah konspirasi politik yang bermuara pada korupsi berjamaah anggota partai senayan.

Tapi entah kenapa, semua itu hilang, pada suatu hari dalam sebuah acara di stasiun televisi swasta saya seperti menemukan pencerahan pandangan terhadap wakil rakyat, yaa wakil rakyat saya. saya seperti tersadar dari pikiran jahat dan bertolak belakangan dengan kenyataan yang ada. saya tak lagi sebenci dulu dengan orang-orang disana, walaupun masih ada saja yang mengganjal, semisal hak interplasi terhadap remisi koruptor yang dilakukan orang-orang biadap disana. tapi salah orang ini berbeda, yaa sangat berbeda dengan mereka. dr. Hj Nova Riyanti Yusup biasa lebih akrab dengan sapaan NoRiYu, aku hampir hampir tak percaya kalau beliau adalah salah satu orang yang selama ini aku hina dan aku anggap sebagai kumpulan sampah negeri ini. beliau berbeda, bahkan sangat berbeda dengan politisi busuk yang duduk di bangku miliaran rupiah itu, tapi kenyataaan dan realita memang seperti itu, akal sehatku harus terima kalau beliau adalah salah satu dari mereka, tetapi tak sejalan dengan bajingan bajingan yang ada disana, beliau bak pencerah di tengah kegelapan, beliau adalah emas permata di antara pecahan kaca, dan beliau adalah tetesan hujan dikala kehausan mendera.

Gairah ini seperti terpanggil kembali untuk sedikit melihat terangnnya orang - orang di parlemen, walaupun penerangan itu hanya sperti kunang-kunang di tengah pekatnya malam. tapi apalah itu, bagiku dr Noriyu sebuah aset yang sangat berharga bagi bangsa ini, bagi bangsa yang amat aku cintai.

Disaat orang-orang disana hanya bicara tentang carut marut bank century dan alur cerita wisma atlit yang makin tak jelas, dr ini keluar dari gerombolan para pecundang dengan membawa draf yang sangat membuatku terbengong tak percaya, rancangan undang-undang kesehatan jiwa yang diperjuangkannya mati matian, dengan sepenuh tenaga dan suntikan motivasi dari diri sendiri, benar benar mahluk sosial yang sangat dirindu oleh bangsa ini. disaat orang-orang bangsa ini sibuk dengan kepentingannya masing-masing, beliau dengan santunnya memperhatikan kehidupan orang lain, orang-orang yang tidak seberuntung dirinnya tentu saja. ini lah kenapa orang-orang disenayan sana tak boleh pandang sbelah mata, tak boleh dilihat dari sudut pandang lensa kamera media. dia yang menyadarkanku dari penggiringan cap oleh monopoli media disemua sel pikiran ku. dia yang menyelamatkan ku dari dosa-dosa prasangka kurang ajar terhadap wakil rakyat disana.  paling tidak sekarang aku mengerti, ratusan manusia disana memang kancrut, tetapi dr Noriyu sungguh mulia. Sekian

Sebuah Kamar Gelap di Bumi Borneo.

Tuhan, Kami Hanya Ingin Juara !


Written on Nopember 22, 2011 – 1:01 pm | by Jauharyfahmi12

“Tuhan, kami hanya ingin bangsa ini juara, apa itu berlebihan? kami sudah pesimis dengan kancut marut politik negeri ini, dan kami tidak akan memanjat doa untuk itu, yang kami harap dan terus akan kami harapkan sekarang, hanya meliat medali emas mampir sejenak di leher para pahlawan kami, kami berharap kau bersedia mengabulkannya, walau itu jadi doa satu2nya yg kau kabulkan atas nama bangsa ini.” Sepetik doa dan harapan dari kami orang-orang yang selalu yakin dan optimis kalau kelak sepakbola negeri ini bisa sampai pada anak tangga teratas.

Satu jam pasca kekalahan lawan Malaysia kemarin malam, saya kembali terpikir untuk menulis di blog yg sudah lama saya tinggalkan ini, tapi ternyata saya kembali harus mencurahkan prasaan kecewa kepada blog ini, karna hanya dengan ini saya bisa melepas kelesuan akibat kekalahan kemarin, dan kembali menegakan kepala, membusungkan dada, atas nama bangsa dan garuda. Kembali ke jalur suporter yang benar, membela bangsa pada saat duka maupun suka, selalu ada untuk mereka, selalu berbangga dengan garuda di dada.

Apa yang salah dengan sepakbola kita, sehingga begitu “pelitnya” tuhan memberikan kesenangan kepada bangsa ini dalam sepakbolannya, memberi sedikit kebanggan walau itu cuman bisa kita rasakan 20 tahunan sekali. tapi kita sebagai suporter Indonesia kembali di wajibkan menunggu, yaa menunggu dengan sabar sampai juara itu datang menghampiri pasukan garuda.

pertannyaan di atas masih menjadi tanda tanya besar dalam benak saya, apakah karna para pemimpin organisasi ini terlalu berlumur dosa, apakah mereka tidak benar-benar tulus mengurus sepakbola ini, apakah ada unsur kepentingan di otak otak kotor mereka, apa semua ini karna uang, aaaaaakh, kalau semua karna itu, sudah hampir putus asa saya melakukan pengharapan untuk perbaikan sepakbola negeri ini.

Tapi yaa Tuhan, tolong tutup mata untuk itu, kami yang mencintai sepakbola, bukan mereka, berilah kami keadilan ya Tuhan, beri kami keadilan seperti yang telah engkau janjikan, kami sudah berusaha sepenuh hati, kami sudah berdoa sepenuh jiwa kami, tapi doa kami tak kunjung kau dengarkan, harus apalagi yang kami perbuat, bahkan kami harus menahan sabar selama puluhan tahun lamannya, kami rasa tidak ada suporter yang sesabar kami tuhan, tapi kenapa tak kau kunjung kabulkan doa kami. apa salah kami tuhan???? kami hanya ingin melihat bangsa ini Juara, tidak lebih dari itu. bahkan kami rela, itu jadi doa yang terkhir yang kau kabulkan atas nama bangsa ini.

Permaian Suci Yang Ternoda (Andy Bachtiar Yusuf)


Written on Juni 14, 2011 – 8:23 pm | by Jauharyfahmi12

“Sepakbola adalah refleksi sebuah bangsa!” kalimat yang saya dengar langsung dari mulut Franz Beckenbauer 6 tahun lalu itu terus membekas di kepala saya. Masih ingat di benak ini, masa-masa awal menjejakkan kaki di Eropa, sebuah benua yang saya rasa lebih maju atau setidaknya lebih beradab dari kita. Tempat dimana zebra cross benar-benar dihargai oleh pengendara kendaraan bermotor. Dimana antri adalah sebuah keharusan, mengalah memberi jalan adalah konvensi dan sopan santun atau tata krama lain yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah di tanah air, disebutkan sebagai budaya bangsa namun nyatanya sulit ditemui di dunia nyata.

Saya berasal dari Indonesia, sebuah negeri yang terus menyebut dirinya sebagai negeri berbudaya, beradat sopan santun dan tentu saja seluruh warganya diwajibkan memiliki agama yang telah disahkan oleh negara. Sejak kecil saya diajarkan betapa mencuri, berprilaku curang dan banyak hal negatif lainnya adalah norma yang jauh dari prilaku Indonesiawi. Sejak dulu pula guru-guru saya selalu berulang kali berujar “Penjajahan Belanda sangat kejam, mereka telah merampas kekayaan alam kita,” atau “350 tahun di jajah Belanda tak seberapa dibanding kekejaman Jepang,” dua kalimat yang saya dengar baik di rumah maupun ruang sekolah.

Maka tumbuhlah saya sebagai orang yang merasa bahwa saya adalah warga dari sebuah negara paling luar biasa. Yang orang-orangnya sangat bisa menghargai orang lain, memahami istilah hak dan kewajiban dengan baik serta tentu saja memahami kata toleransi dengan sangat baik.

demo_pssi_riau1Well…demikiankah? Ah….nyatanya tidak tuh. Mengurus KTP yang harusnya bagian dari jasa pelayanan negara itu kalau mau cepet ya musti kasih sumbangan, nerobos lampu merah kalau mau cepet ya kasi seadanya atas inisiatif sendiri atau naik haji yang sebenarnya urusan pribadi seseorang itu harus diurus sepenuhnya oleh negara lengkap dengan biaya yang diurus oleh negara.

Menyeberang jalan—setidaknya—di Pulau Jawa adalah neraka, tak peduli kita melangkah diatas zebra cross yang di segala level pelajaran diajarkan memiliki fungsi “Tempat menyebrang” nyaris mustahil menemukan kendaraan yang mau melambatkan lajunya saat kita melangkah diatasnya.

Oiya….bangsa saya juga sering lupa pada sejarahnya sendiri. Tak ingat apa yang terjadi tahun 1955 saat nasionalisasi dijalankan oleh Sukarno, lupa di peta milik pemerintah kolonial Belanda tak pernah sempat terdapat Aceh serta Timor Timur paling parah lagi kita sering lupa bahwa kita ini sebenarnya berasal dari banyak bangsa dengan segala adat istiadat dan budayanya yang berbeda.

Saya tak yakin beberapa paragraph diatas menjelaskan maksud saya kemudian. Tapi itulah alasan mengapa saya tak pernah memaki PSSI atau Nurdin Halid atau siapapun itu di organisasi Sepakbola yang oleh alm Aheng Suhendar kawan baik saya disebut sebagai “Lebih mirip instansi pemerintah ketimbang organisasi olahraga,” sebuah organisasi yang oleh banyak orang disebut bagai kartel mafia kelas berat.

20110327125137kongres-ricuh1Sama sekali saya tak ingin menyebut bahwa PSSI adalah satu-satunya lembaga terbobrok yang ada di republik ini, kesalahan paling fatal dari mereka adalah menjadi induk olahraga paling populer di tanah air dan dunia ini…..SEPAKBOLA. Orang menjadi lupa bagaimana banyak lembaga lain di negeri ini sibuk mengemplang biaya perbaikan jalan, galian telepon atau kabel atau saluran air, jatah konsumsi jemaah Haji yang tak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan serta jutaan urusan lain di negeri ini yang akhirnya selesai hanya oleh uang! Tentu termasuk hukum yang dikuasai penuh oleh para pemegang uang itu.

“Turunkan Nurdin Halid adalah harga mati!” tulis pamflet-pamflet protes yang tersebar dimana-mana itu lantang. Nurdin harus turun karena ia adalah seorang mantan narapidana korupsi, demikian kurang lebih permintaan banyak orang tanpa pernah ingat…..siapa orang yang tak pernah korupsi di negeri ini? Jika pun ia bersih, apakah lalu para pemegang hak suara mau memilih dirinya begitu saja tanpa embel-embel rupiah sekardus?

Seperti itulah Sepakbola terefleksi dalam segala sendi bangsa kita. Ketidak sesuaian terjadi dimana-mana, rasa tidak percaya pada bangsa sendiri dan pemimpin semakin menebal. Di situasi bangsa seperti itulah kita berada. Lalu kita ingin Sepakbola kita maju?

Anda jelas akan cepat berkata “Bagaimana dengan Afrika?” atau “Bagaimana dengan Korea Utara?” Nah…mereka sangat jauh dari apa yang digambarkan oleh banyak media barat, terutama Afrika yang secara geografis dan cultural memang selalu berhubungan dengan Eropa karena kedekatan historis mereka. Juga masyarakat Korea Utara yang hidup jauh dari teknologi itu, nyatanya bahagia dan percaya pada pemerintah mereka yang mereka sebut sebagai simbol perlawanan….persis seperti masyarakat Kuba yang menyebut pemimpin besarnya sebagai “Sang Komandan”

Suporter Bawa 100 Tikus ke Kantor PSSIBarat selalu menyebut bagaimana konon para pemain Korea Utara 1966 dikirim ke kamp kerja paksa akibat ketahuan berpesta di Inggris setelah kemenangan sensasional melawan Italia. Nyatanya film dokumenter buatan Inggris The Game of Their Life memberi info yang sangat berbeda. Para pemain yang disambut bagai pahlawan, status social yang terlontar tinggi. Negeri komunis yang secara ekonomi memang sangat memprihatinkan itu nyatanya memiliki rasa kepercayaan sangat tinggi pada para pemimpinnya….entah karena pemimpinnya yang memang baik atau masyarakatnya yang luar biasa.

Sepakbola Indonesia menggambarkan seperti apa kondisi bangsa saat ini. Kisah pengaturan skor yang sering diupayakan lewat jalur wasit tak akan mungkin terjadi jika mental ingin cepat kaya tidak segera dihapus dari negeri ini. Paham bahwa kesuksesan diukur dari tebal tidaknya kantong serta berapa banyak jumlah uang di rekening harus bisa dihapus jika ingin segala skandal di dunia Sepakbola kita bisa menjadi kisah usang.

Sepakbola kita sudah kacau balau sejak lama, bencana utama dimulai saat penggabungan Galatama dengan Perserikatan yang dikemudian hari membuat penggunaan dana pemerintah via APBD menjadi hal yang lumrah dilakukan. Sementara mental belum tereparasi dengan benar, uang di depan mata selalu menggoda….inilah kemudian turunan bencana bersatunya dua kubu Sepakbola yang jelas berbeda di tahun 1994 itu.

Saya tak pernah ingin mencerca karena yakin bahwa saya atau kita belum tentu bisa sebaik mereka yang dicerca. Saya hanya coba berpikir netral bahwa Sepakbola sama sekali tak memiliki dosa, manusia-manusianyalah yang telah melumuri Sepakbola dengan noda kotoran yang luar biasa. Dengan politisasi yang sangat kental, dengan keserakahan sampai kepada kekerasan yang bagai lumrah digunakan.

Di dunia seperti itulah kita hidup, saat semua orang berteriak tentang penegakan hukum….orang-orang itu jugalah yang membeli dvd bajakan atau mengunduh lagu milik seorang musisi tanpa peduli bahwa benda bajakan atau unduhan tanpa ijin adalah sebuah pelanggaran hukum hak cipta yang sangat serius. Kita berkicau bahwa kita anti korupsi padahal dengan penuh restu dan kesadaran merelakan selembar dua lembar rupiah kita pada petugas tak jauh dari lampu merah.

bambang-pamungkas-timnas-indonesia-13059098281Seperti inilah sikap saya pada kancut marut Sepakbola kita yang tiap menit kian kacau ini. Berita yang terus berputar tak jelas, arah yang terus disetir dengan segala kuasa dan kekuatan apapun bentuknya itu. Saya membenci politik setengah mati dan apriori kepadanya…..bahkan ketika kini saya hanya ingin Sepakbola negeri ini kembali ke khittahnya, nyatanya saya justru malah berada di pusaran politik dengan kedok Sepakbola yang kental.

Sepakbola agama saya telah dikotori, telah terjadi sejak lama dan tak seorangpun menyadarinya…..kecuali para pelakunya.

@andibachtiar

Tags: , ,