Written on
Maret 9, 2012 – 6:58 pm | by Jauharyfahmi12
Pada tanggal 5 Juni 2007, negara-negara seluruh dunia umumnya memperingatnya sebagai Hari Lingkungan Hidup. Pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim (climate change) belum menjadi mengedepan dalam kesadaran multipihak. Pemanasan global (global warming) telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). Tidak banyak memang yang memahami dan peduli pada isu perubahan iklim. Sebab banyak yang mengatakan, memang dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif. Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap tidak penting oleh banyak kalangan, utamanya penerima mandat kekuasaan dalam membuat kebijakan.
Perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming), pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor dunia ”Guinnes Record Of Book” sebagai negara tercepat
yang rusak hutannya.
Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung es) di Himalaya dan Kutub Selatan. Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el Nino) di seluruh dunia. Serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Jika ini kita kaitkan dengan wilayah Indonesia tentu sangat terasa, begitu juga dengan kota-kota yang dulunya dikenal sejuk dan dingin makin hari makin panas saja. Contohnya di Jawa Timur
bisa kita rasakan adalah Kota Malang, Kota Batu, Kawasan Prigen Pasuruan di Lereng Gunung Welirang dan sekitarnya, juga kawasan kaki Gunung Semeru. Atau kota-kota lain seperti Bogor Jawa Barat, Ruteng Nusa Tenggara, adalah daerah yang dulunya dikenal dingin tetapi sekarang tidak lagi.
Meningkatnya suhu ini, ternyata telah menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik “lama dan baru” yang merata dan terus bermunculan; seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, malaria. Padahal penyakit-penyakit seperti malaria, demam berdarah dan diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah lewat dan mampu ditangani dan kini telah mengakibatkan ribuan orang terinfeksi dan meninggal. Selain itu, ratusan desa di pesisir Jatim terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, indikatornya serasa makin dekat saja jika kita tengok naiknya gelombang pasang di minggu ketiga bulan Mei 2007 kemarin. Mulai dari Pantai Kenjeran, Pantai Popoh Tulungagung, Ngeliyep Malang dan pantai lain di pulau-pulau di Indonesia.
Untuk negara-negara lain meningkatnya permukaan air laut bisa dilihat dengan makin tingginya ombak di pantai-pantai Asia dan Afrika. Apalagi hal itu di tambah dengan melelehnya gleser di gunung Himalaya Tibet dan di kutub utara. Di sinyalir oleh IPCC hal ini berkontribusi langsung meningkatkan permukaan air laut setinggi 4-6 meter. Dan jika benar-benar meleleh semuanya maka akan meningkatkan permukaan air laut setinggi 7 meter pada tahun 2012. Dan pada 30 tahun kedepan tentu ini bisa mengancam kehidupan pesisir dan kelangkaan pangan yang luar biasa, akibat berubahnya iklim yang sudah bisa kita rasakan sekarang dengan musim hujan yang makin pendek sementara kemarau semakin panjang. Hingga gagal panen selain soal hama, tetapi akibat kekuarangan air di tanaman para ibu-bapak petani banyak yang gagal.
Lantas dengan situasi sedemikian rupa apa yang dibutuhkan oleh dunia kecil “lokal” dan kita sebagai individu penghuni planet bumi? Yang dibutuhkan adalah REVOLUSI GAYA HIDUP, sebab dengan demikian akan mengurangi penggunaan energi baik listrik, bahan bakar, air yang memang menjadi sumber utama makin berkurangnya sumber kehidupan.
Selain itu perlunya melahirkan konsesus yang membawa komitmen dari semua negara untuk menegakkan keadilan iklim. Seperti yang sudah dilakukan oleh Australia yang mempunyai instrumen keadilan iklim, melalui penegakan keadilan iklim dengan membentuk pengadilan iklim. Dimana sebuah instrumen yang mengacu pada isi Protokol Kyoto yang menekankan kewajiban pada negara-negara Utara untuk membayar dari hasil pembuangan emisi karbon mereka untuk perbaikan mutu lingkungan hidup bagi negara-negara Selatan.
Dalam praktek yang lain saatnya kita mulai menggunakan energi bahan bakar alternatif yang tidak hanya dari bahan energi fosil, misalnya untuk kebutuhan memasak. Menggunakan energi biogas (gas dari kotoran ternak) seperti yang dilakukan komunitas merah putih di Kota Batu. Desentraliasasi energi memang harus dilakukan agar menghantarkan kita pada kedaulatan energi dan melepas ketergantungan pada sentralisasi energi yang pada akhirnya harganya pun makin mahal saja.
Sedangkan untuk para pengambil kebijakan harusnya mengeluarkan policy yang jelas orientasinya untuk mengurangi pemanasan global. Misalnya menetapkan jeda tebang hutan di seluruh Indonesia agar tidak mengalami kepunahan dan wilayah kita makin panas. Menghentikan pertambangan mineral dan batubara seperti di Papua, Kalimantan, Sulawesi, hal ini bisa dilakukan dengan bertahap mulai dari meninjau ulang kontrak karyanya terlebih dahulu. Selanjutnya kebijakan progressive dengan mempraktekkan secara nyata jeda tebang dan kedaulatan energi harus dilakukan jika kita tidak mau menjadi kontributor utama pemanasan global.
Iklim memang mengisi ruang hidup kita baik secara individu maupun sosial, maka tidak mungkin menegakkan keadilan iklim tanpa melibatkan kesadaran dan komitmen semua pihak. Bahwa tidak bisa dibantah, kita hidup dalam ekosistem dunia “perahu” yang sama, sehingga jika ada bagian yang bocor dan tidak seimbang, sebenarya ini merupakan ancaman bagi seluruh isi perahu dan penumpangnya. Maka merevolusi gaya hidup kita untuk tidak makin konsumtif sangat mendasar dilakukan sekarang juga oleh seluruh umat manusia. Sebab dengan begitu kita bisa menempatkan apa yang kita butuhkan bisa ditunda tidak, yang harus kita beli membawa manfaat atau tidak dan apakah yang kita beli bisa digantikan oleh barang yang lain yang ramah lingkungan?
Ini semua adalah cerminan bagi mereka yang berusaha dan sadar sepenuh hati demi keberlanjutan kehidupan sosial (sustainable society) yang berkeadilan secara sosial, budaya, ekologis dan ekonomi. Inilah tindakan nyata untuk meraih kedaulatan energi dan melepaskan ketergantungan terhadap energi fosil yang sekarang telah dikuasai oleh korporasi modal. Sekarang siapapun bisa memilih, mau jadi kontributor pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim dan suhu yang makin panas? Atau mau menjadi bagian dari pelaku ”penyejukan global” dengan mengubah pola konsumsi dan gaya hidup dari sekarang juga? Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Mari bertindak nyata untuk masa depan bersama.
Tujuan,
Tujuaannya jelas adalah sebagai bentuk penyadaran kepada masyarakat dunia secara umum, dan masyarakat Indonesia kepada khususnya, sebagai bentuk kritikan kepada Negara-negara industry yang banyak berperan penting dalam terkikisnya udara dingin dari permukaan bumi, dan Negara berkembang yang ikut berpartisipasi memberikan dampak negatifnya kepada bumi yang kita cintai, walau hanya sepersekian persen secara matematikannya. Dengan artikel diatas jelas bahwa bumi ini sangat butuh perhatian dari seluruh manusia yang hidup didalamnya, baik itu pelaku industry, pemegang tampuk kekuasaan, maupun masyarakat social yang juga turut bersosialisasi di muka bumi ini. Dengan berbagai seruan penyelamatan yang dijelaskan pada artikel diatas, jelas penulis mengajak seluruh masyarakat dunia untuk sama-sama me revolusi gaya hidup demi keselamatan bumi tercinta.
Saran
Seharusnya penulis lebih memaparkan lagi bagaimana cara Negara-negara industry yang sangat berperan besar dalam pengrusakan bumi, agar para pembaca mengerti yang sebenarnya, sebab-akibat dari pekerjaan industry di berbagai Negara berkembang tersebut, agar para pembaca juga tahu mana Negara yang sebenarnya merusak bumi ini dan mana Negara yang memperjuangkan keasrian bumi ini tetap terjaga. Juga perlu di jelaskan tindakan nyata dari berbagai Negara, baik secara structural, organisasi, maupun individual, ini bertujuan agar lebih memotivasi pembaca untuk berbuat nyata bagi bumi yang mereka cintai.
Pesan moral
Banyak yang dapat di ambil dari coretan tangan seorang manusia yang peduli terhadap bumi di atas, bahkan sangat banyak, tapi yang terpenting, niat baiknya untuk mengajak kepada seluruh umat manusia yang hidup dimuka bumi untuk sama-sama saling memperbaiki “perahu” yang juga bersama sama di tumoanginnya. Tak dapat dipungkiri bahwa bumi ini setiap detik semakin tergerus oleh element-element dan zat-zat yang berbahaya bagi kenyamanan iklim dimuka bumi ini, itu sebabnya di perlukan ekstra kepedulian untuk menutupi lubang-lubang kebocoran atau kerusakan-kerusakan yang semakin nyta dimuka bumi, melalui tulisan diatas, secara panjang lebar penulis mencoba menjelaskan awal dari sebuah pengrusakan dan dampak dari kerusakan sampai usaha untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Dengan memaca tulisan di atas, maka tidak adalagi alas an bagi seorang pembaca untuk tidak melakukan tindakan nyata bagi bumi ini, karna setiap individu pasti menyayangi dirinya, keluargannya, dan tentu saja buminnya.
Sinopsis
Terhitung sejak tanggal 5 juni 2007, para masyarakat dunia menyebut hari pada tanggal ini dengan sebutan hari lingkungan hidup, dimana sangat banyak isu2 lingkungan yang perlu diberikan perhatian, utamannya isu tentang global worming atau lebih dekat dengan kita dengan sebutan “pemanasan global”. Penulis mencoba mendiskripsikan isu pemanasan global adalah isu yang harus benar2 di perhatikan, karna selama ini, isu ini dianggap kurang perhatian karna hanya berdampak secara akumulatif. Disini juga di jelaskan bahwa yang sangat berperan penting dalam pengrusakan keadaan alam adalah meningatnya emisi karbon dari akibat penggunaan energy fosil (batubara dan berbagai jenis lainnya). Juga bagaimana Negara-negara industrialisasi seperti amerika, inggris, kanada, jepang cina dan lain lain menjadi actor utama dalam pengrusakan bumi tercinta kita. Dampak dari kegiatan industry dari beberapa Negara di atas mengakibatkan musim yang tidak menentu, kemarau menjadi lebih panjang, dan hujan menjadi relative singkat, juga pergesan gleser kutub utara yang berdampak hamper keseluruh belahan dunia manapun terutama kebenua asia dan afrika dengan indicator makin tingginya ombak-ombak di pesisir pantai kedua negara. Bagaimana dampaknya dengan Negara kita, tentu saja sangat memprihatinkan, global warming menyebabkan kekeringan dan gagal panen disektor kehidupan pangan, dan semakin meraja lelannya penyakit “clasik” yang mustinya sudah bisa ditangani sejak dulu yaitu malaria. Lalu apa yang bisa kita lakukan, disini penulis mengajak kita untuk sudah saatnya me REVOLUSI GAYA HIDUP, dengan maksud membiasakan gaya hidup yang sangat ramah lingkungan untuk menjaga bumi kita dari kehancuran yang sangat membahayakan bagi kelangsungan kehidupan. Cretive by Dwi Putri Zuliyana
Tags: amaerika, cina, inggris, jawa barat, jawa timur, kanada
Posted in Motivasi, Tulisan Awal | No Comments »